Yogyakarta, Updatemerapi.com – Percepatan penurunan stunting di Kota Yogyakarta mencatatkan capaian menggembirakan. Berdasarkan hasil verifikasi dan validasi terbaru, angka stunting pada Desember 2025 tercatat sebesar 8,48 persen, turun signifikan dibandingkan Januari 2025 yang masih berada di angka 11,83 persen.
Capaian tersebut disampaikan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Aan Iswanti, dalam Focus Group Discussion (FGD) Pelaksanaan BKK Danais DIY dengan studi kasus percepatan penanganan stunting di Kota Yogyakarta, yang digelar di Edotel Hotel, Kamis (15/1).

Menurut Aan, penurunan stunting tidak lepas dari kerja bersama berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, puskesmas, kelurahan, hingga kader kesehatan di tingkat masyarakat. Salah satu faktor kunci yang berperan besar adalah program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang bersumber dari Dana Keistimewaan.
“Penurunan ini tidak mungkin terjadi tanpa kolaborasi semua pihak. PMT yang diberikan secara konsisten sangat berperan dalam memperbaiki status gizi balita,” ujar Aan.
Meski demikian, ia menekankan masih adanya tantangan yang perlu diselesaikan bersama, terutama terkait tingkat kehadiran balita di posyandu. Pada Desember, tingkat kehadiran balita tercatat 97,18 persen, yang berarti masih terdapat hampir tiga persen balita yang belum terpantau pertumbuhannya.
“Kami menargetkan kehadiran balita 100 persen agar data pertumbuhan benar-benar valid dan mencerminkan kondisi riil di wilayah,” jelasnya.
Aan juga menilai PMT Danais sangat membantu, terutama bagi balita yang tidak mengalami kenaikan berat badan meski terlihat aktif dan sehat. Ia menambahkan bahwa angka stunting baru terus menunjukkan tren penurunan. Sepanjang 2025, rata-rata stunting baru berada di angka 1,23 persen, bahkan dalam tiga bulan terakhir turun hingga di bawah satu persen.
“Pencegahan stunting baru adalah kunci. Upaya promotif dan preventif sejak remaja putri, calon pengantin, ibu hamil hingga ibu bersalin terbukti efektif,” katanya.
Sementara itu, Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, menyampaikan apresiasi atas capaian penurunan stunting di Kota Yogyakarta. Ia menilai hasil tersebut merupakan buah dari kerja kolaboratif yang terencana dan berkelanjutan.
“Hari ini kami bersilaturahmi dalam satu tujuan, yaitu menyelesaikan masalah stunting di Kota Yogya,” ungkap Eko.
Sebagai bentuk komitmen, DPRD DIY mendorong peningkatan dukungan Dana Keistimewaan untuk penanganan stunting. Pada 2025, anggaran Danais dialokasikan sebesar Rp100 juta per kelurahan atau sekitar Rp4,5 miliar. Pada 2026, alokasi tersebut ditingkatkan menjadi Rp120 juta per kelurahan, dengan total mencapai Rp5,4 miliar.
“Anggaran kita tambah dari Rp4,5 miliar menjadi Rp5,4 miliar di tahun 2026. Namun, anggaran saja tidak cukup. Penanganan stunting harus didukung lingkungan hidup yang sehat, kualitas air dan udara yang baik, serta perilaku hidup bersih dan sehat di setiap rumah tangga,” tegasnya.
Eko menambahkan, penurunan stunting dilakukan secara bertahap dan realistis. Setelah berhasil menurunkan angka hingga kisaran 8 persen, target selanjutnya adalah mencapai 4–5 persen, hingga pada akhirnya nol persen stunting.
“Ini bukan sulapan, ini kerja keras. Selama belum nol, berarti kita harus terus bekerja. Apalagi masih ada sekitar 191 ibu hamil dengan kondisi kesehatan yang perlu perhatian serius,” jelasnya.
Ia juga mengajak peran aktif keluarga, khususnya para suami, untuk lebih peduli terhadap kesehatan ibu hamil, mulai dari pemenuhan gizi hingga penciptaan lingkungan hidup yang sehat di rumah.













