Menu

Dark Mode
Nuzulul Quran dan Cara Orang Jawa Memaknai Wahyu dalam Kehidupan Data dan Ajaran Moral dalam Manuskrip Jawa Tentang Perang Peserta BPJS PBI Dinonaktifkan? Ini Mekanisme dan Penjelasan Resmi Mobil Pajak Keliling PBB Hadir di Singosaren, Warga Imogiri Kini Bayar Pajak Lebih Mudah Kolaborasi Presisi Polda DIY Perkuat Keamanan dan Higienitas Program Makan Bergizi Gratis di Yogyakarta Rakerda HILLSI DIY 2026 Digelar di Sleman, Siapkan Portal Data Center untuk Dongkrak Kualitas SDM

Berita Unggulan

Pemkot Yogyakarta Perkuat Layanan HIV/AIDS, Target Akhiri AIDS 2030 Digenjot Lewat Kolaborasi

badge-check


					Pemkot Yogyakarta memperkuat layanan HIV/AIDS melalui kolaborasi lintas sektor untuk mengejar target Akhiri AIDS 2030. Foto: warta.jogjakota.go.id Perbesar

Pemkot Yogyakarta memperkuat layanan HIV/AIDS melalui kolaborasi lintas sektor untuk mengejar target Akhiri AIDS 2030. Foto: warta.jogjakota.go.id

YOGYAKARTA, updatemerapi.com — Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan langkah strategis dalam memperkuat layanan HIV/AIDS sebagai bagian dari upaya mencapai target Akhiri AIDS 2030. Penegasan tersebut disampaikan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, dalam Peringatan Hari AIDS Sedunia 2025 yang digelar di Grha Pandawa, Balai Kota Yogyakarta, pada Selasa (2/12).

Pada kesempatan tersebut, dilakukan penandatanganan komitmen bersama untuk mewujudkan layanan HIV/AIDS yang inklusif. Penandatanganan dilakukan oleh Wali Kota Yogyakarta, Direktur UPKM Bethesda YAKKUM Wahyu Priosaptono, serta sejumlah pemangku kepentingan seperti Dinas Kesehatan, DP3AP2KB, Yayasan Kebaya, dan PKBI Kota Yogyakarta.

Hasto menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi YAKKUM yang selama ini aktif dalam memperkuat layanan HIV/AIDS di Kota Yogyakarta. Menurutnya, isu HIV/AIDS harus mendapat perhatian serius karena berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia yang menjadi kekuatan utama kota tersebut.

“Target Akhiri AIDS 2030 tidak boleh berhenti sebagai slogan. Kita perlu memperkuat sinergi agar program berjalan secara konsisten,” ujar Hasto. Ia juga mengingatkan bahwa sejumlah target pembangunan global sebelumnya, seperti SDGs dan MDGs, tidak sepenuhnya tercapai sehingga komitmen perlu diperkuat.

Hasto menyoroti potensi tumpang tindih antara HIV/AIDS dan Tuberkulosis (TB), termasuk TB MDR yang lebih berbahaya. Karena itu, integrasi penanganan kedua penyakit dipandang penting agar hasilnya lebih optimal.

Merujuk data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta sejak 2004 hingga triwulan III 2025, terdapat 1.777 kasus HIV positif dan 340 kasus AIDS yang mendapat layanan kesehatan di kota ini. Sekitar dua pertiga pasien bukan warga Kota Yogyakarta secara administratif, sehingga layanan kesehatan kota juga turut memberikan manfaat bagi daerah sekitarnya.

Hasto juga menegaskan pentingnya penyampaian data HIV/AIDS secara agregat untuk meningkatkan kewaspadaan publik tanpa menyinggung aspek kerahasiaan. “Data tidak boleh disembunyikan, tetapi harus disampaikan secara benar agar masyarakat tetap waspada,” katanya.

Dua langkah utama terus diperkuat pemerintah, yakni active case finding untuk menemukan kasus sedini mungkin serta pendampingan terapi ARV agar pasien menjalani pengobatan secara konsisten. Edukasi publik dan upaya mengurangi stigma terhadap ODHIV/ODHA juga menjadi fokus penting.

Saat ini Pemkot Yogyakarta mengerahkan 169 tenaga kesehatan melalui program satu kampung satu bidan, serta 495 Tim Pendamping Keluarga untuk mendukung edukasi, pencegahan, dan penanganan kasus HIV/AIDS di masyarakat.

Sementara itu, Direktur UPKM Bethesda YAKKUM, Wahyu Priosaptono, mengatakan bahwa sinergi yang terbangun bersama pemerintah kota menjadi energi baru dalam upaya percepatan penanggulangan HIV/AIDS. Menurutnya, kolaborasi merupakan cara terbaik menghadapi berbagai keterbatasan sumber daya.

YAKKUM, lanjut Wahyu, bekerja sama dengan Dinas Kesehatan dan sejumlah puskesmas untuk meningkatkan kualitas layanan Perawatan Dukungan Pengobatan (PDP). Di tingkat masyarakat, pihaknya juga memperkuat pembentukan Warga Peduli AIDS (WPA) serta Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) yang beranggotakan ODHIV/ODHA.

“Mereka kami latih agar nantinya dapat menjadi fasilitator atau narasumber di lingkungan masing-masing,” katanya.

Sumber: warta.jogjakota.go.id

Read More

Nuzulul Quran dan Cara Orang Jawa Memaknai Wahyu dalam Kehidupan

8 March 2026 - 02:35 WIB

Data dan Ajaran Moral dalam Manuskrip Jawa Tentang Perang

7 March 2026 - 09:53 WIB

Peserta BPJS PBI Dinonaktifkan? Ini Mekanisme dan Penjelasan Resmi

6 March 2026 - 06:36 WIB

Dari Rekan Bisnis Jadi Tersangka, Duduk Perkara Sengketa Merek HMI

25 February 2026 - 12:57 WIB

Sambut Ramadhan 1447 H, PRIMA DMI Kota Yogyakarta dan BAZNAS Gelar Bootcamp Dakwah Digital

16 February 2026 - 03:34 WIB

Trending on Berita Unggulan