Menu

Dark Mode
Nuzulul Quran dan Cara Orang Jawa Memaknai Wahyu dalam Kehidupan Data dan Ajaran Moral dalam Manuskrip Jawa Tentang Perang Peserta BPJS PBI Dinonaktifkan? Ini Mekanisme dan Penjelasan Resmi Mobil Pajak Keliling PBB Hadir di Singosaren, Warga Imogiri Kini Bayar Pajak Lebih Mudah Kolaborasi Presisi Polda DIY Perkuat Keamanan dan Higienitas Program Makan Bergizi Gratis di Yogyakarta Rakerda HILLSI DIY 2026 Digelar di Sleman, Siapkan Portal Data Center untuk Dongkrak Kualitas SDM

Berita Unggulan

Di Sleman, Pengrajin Ini Bertahan Menjaga Senjata Tradisional Nusantara dari Lupa Zaman

badge-check


					Pengrajin Sleman Mei Anjar Witolo konsisten melestarikan senjata tradisional Nusantara sebagai identitas budaya di tengah arus modernisasi. foto: Istimewa Perbesar

Pengrajin Sleman Mei Anjar Witolo konsisten melestarikan senjata tradisional Nusantara sebagai identitas budaya di tengah arus modernisasi. foto: Istimewa

Sleman, Updatemerapi.com – Di sebuah bengkel sederhana di Seyegan, Sleman, suara mesin grafir berpadu dengan ketenangan alam sekitar. Di sanalah Mei Anjar Witolo merawat bilah-bilah senjata tradisional Nusantara, satu per satu, dengan kesabaran dan keyakinan bahwa warisan budaya tak boleh berhenti di etalase museum.

Mei Anjar Witolo menghabiskan hari-harinya di Padukuhan Seyegan, Kabupaten Sleman, untuk satu hal yang ia yakini penting: menjaga marwah senjata tradisional Nusantara. Selama enam tahun terakhir, Anjar (sapaan akrabnya) konsisten menekuni seni kriya logam dan kayu, menghasilkan beragam bilah tradisional seperti kudi, wedhung, caluk, badik, hingga tombak.

Baginya, setiap senjata bukan sekadar alat atau karya estetika. Di dalamnya tersimpan sejarah, filosofi, dan kecerdasan teknologi leluhur yang membentuk identitas budaya bangsa.

Latar belakang Anjar sebagai aktivis sejarah dan pelestari cagar budaya memberi warna tersendiri pada karyanya. Ia pernah terlibat dalam Tim Ahli Rehabilitasi Candi Cetho, pengalaman yang membuatnya terbiasa membaca artefak bukan hanya dari bentuk, tetapi juga makna.

Dalam proses penciptaan, Anjar menggabungkan teknik modern dengan tradisi. Ia bekerja sama dengan pandai besi dari Purwokerto dan Majalengka untuk tahap tempa dasar. Setelah itu, seluruh proses detail dan penyelesaian akhir ia kerjakan sendiri di bengkelnya.

Untuk mempertegas karakter bilah, Anjar menggunakan teknik etching dengan cairan ferric chloride. Sementara sarung senjata dibuat dari kulit pilihan, mulai dari kulit sapi hingga kulit ikan pari, yang dijahit secara manual.

Pemilihan material gagang dan warangka pun tidak sembarangan. Ia memilih kayu-kayu langka seperti galih asem, tesek, dan lotrok, yang menurutnya memiliki karakter dan filosofi tersendiri.

“Setiap kayu punya cerita. Bukan cuma soal kuat atau indah, tapi nilai yang dibawanya,” kata Anjar, Senin (9/2/2026).

Proses pengerjaan satu bilah membutuhkan waktu yang tidak singkat. Sebilah cundrik atau pangot kecil memerlukan waktu minimal tiga hari. Untuk pedang panjang, golok, atau tombak dengan detail kompleks, pengerjaan bisa mencapai sepuluh hari.

Dalam setiap karyanya, Anjar sengaja menggunakan istilah lokal. Ia menghindari penyebutan istilah asing sebagai upaya mengenalkan kembali kosakata budaya yang mulai jarang digunakan.

Kegelisahan Anjar berangkat dari realitas generasi muda yang lebih akrab dengan katana Jepang atau pisau Eropa dibanding senjata tradisional Nusantara. Melalui media sosial, ia tak hanya memasarkan karya, tetapi juga aktif berbagi literasi sejarah dan filosofi bilah Nusantara.

“Bilah Nusantara itu cerminan kecerdasan leluhur. Ini identitas yang seharusnya kita banggakan,” ujarnya.

Meski sebagian besar pasarnya terbentuk melalui sistem lelang daring, Anjar tidak menempatkan dirinya semata sebagai penjual. Ia aktif terlibat dalam diskusi kesejarahan dan menjadi relawan budaya di lingkungannya. Ia juga tergabung dalam Forum Kapak dan Bilah Nusantara, komunitas yang fokus pada pelestarian senjata tradisional.

Bagi Anjar, keberhasilan seorang pengrajin pelestari tidak diukur dari banyaknya pesanan, melainkan dari sejauh mana karyanya mampu menumbuhkan kembali kesadaran dan kebanggaan masyarakat terhadap warisan budaya sendiri.

Di bengkel kecilnya di Sleman, Anjar tidak sekadar membuat senjata. Ia sedang menjaga ingatan kolektif dan merawat identitas Nusantara agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

sumber: Infopublik.id

Read More

Nuzulul Quran dan Cara Orang Jawa Memaknai Wahyu dalam Kehidupan

8 March 2026 - 02:35 WIB

Data dan Ajaran Moral dalam Manuskrip Jawa Tentang Perang

7 March 2026 - 09:53 WIB

Peserta BPJS PBI Dinonaktifkan? Ini Mekanisme dan Penjelasan Resmi

6 March 2026 - 06:36 WIB

Dari Rekan Bisnis Jadi Tersangka, Duduk Perkara Sengketa Merek HMI

25 February 2026 - 12:57 WIB

Sambut Ramadhan 1447 H, PRIMA DMI Kota Yogyakarta dan BAZNAS Gelar Bootcamp Dakwah Digital

16 February 2026 - 03:34 WIB

Trending on Berita Unggulan