Menu

Dark Mode
Nuzulul Quran dan Cara Orang Jawa Memaknai Wahyu dalam Kehidupan Data dan Ajaran Moral dalam Manuskrip Jawa Tentang Perang Peserta BPJS PBI Dinonaktifkan? Ini Mekanisme dan Penjelasan Resmi Mobil Pajak Keliling PBB Hadir di Singosaren, Warga Imogiri Kini Bayar Pajak Lebih Mudah Kolaborasi Presisi Polda DIY Perkuat Keamanan dan Higienitas Program Makan Bergizi Gratis di Yogyakarta Rakerda HILLSI DIY 2026 Digelar di Sleman, Siapkan Portal Data Center untuk Dongkrak Kualitas SDM

Berita Unggulan

Dari Italia ke Pasar Klitikan Imogiri: Perjalanan Hidup Pak Suyatno Menata Ulang Nasib

badge-check


					Kisah Pak Suyatno, mantan pemeriksa kulit internasional yang kini berjualan di Pasar Klitikan Imogiri, Yogyakarta, setelah pulang kampung sejak 2006. foto: Istimewa Perbesar

Kisah Pak Suyatno, mantan pemeriksa kulit internasional yang kini berjualan di Pasar Klitikan Imogiri, Yogyakarta, setelah pulang kampung sejak 2006. foto: Istimewa

Imogiri, Updatemerapi.com – Tak semua jalan hidup berakhir di tempat yang sama dengan titik awalnya. Pak Suyatno, yang kini berjualan di Pasar Klitikan Imogiri, Yogyakarta, pernah menghabiskan bertahun-tahun hidupnya di dunia industri internasional. Dari Italia hingga Korea, ia kini memilih bertahan di denyut ekonomi rakyat.

Di tengah lalu lintas padat Jalan Imogiri Timur, Yogyakarta, Suyatno (akrab disapa Om Yatno) menggelar lapak klitikannya. Barang-barang bekas tertata rapi di atas terpal, menunggu pembeli yang singgah. Tak banyak yang tahu, pria ini pernah bekerja lintas negara sebagai pemeriksa kualitas bahan kulit.

Sebelum kembali ke Yogyakarta, Pak Suyatno merantau selama 17 tahun. Selama 14 tahun, ia bekerja di pabrik sepatu Eagle, Balaraja, Tangerang. Dari sanalah keahliannya mengantarkan ia ke posisi penting sebagai inspector kulit untuk kebutuhan sepatu dan jaket.

Pekerjaan itu membawanya bepergian ke sejumlah negara, seperti Singapura, Malaysia, Korea Selatan, hingga Italia. Ia bertugas memastikan kualitas bahan kulit sebelum diproduksi secara massal.

“Dulu saya bagian checking kulit yang mau dipakai untuk sepatu dan jaket,” kata Pak Yatno, mengenang masa kerjanya.

Namun, dinamika global mengubah segalanya. Setelah peristiwa Bom Bali, perusahaan Amerika tempatnya bekerja memindahkan operasional ke Vietnam. Situasi itu membuat Pak Suyatno memilih pulang kampung dan memulai ulang kehidupannya.

Ia kembali ke Yogyakarta pada 2006, bertepatan dengan masa pemulihan pascagempa besar. Sejak saat itu, ia menekuni dunia perdagangan klitikan, menjual barang bekas yang masih layak pakai.

Kini, Pak Suyatno menjadi bagian dari Paguyuban Pasar Klitikan Imogiri yang menaungi sekitar 500 pedagang. Ia mengikuti ritme pasaran Jawa, berpindah lokasi berdagang dari Jangkang Sleman, Turi Bantul, Godean, Sanden, hingga Imogiri dan Gamping.

Menurutnya, ekosistem klitikan di Yogyakarta saling terhubung. Selain Imogiri, ada Pasar Senthir di kawasan Malioboro, Klitikan Kliwon di Bantul dan Cebongan, serta Pasar Klitikan Wirobrajan yang buka dari pagi hingga malam.

Untuk stok dagangan, Pak Suyatno kerap berburu ke pengepul rongsok besar. Dari sana, ia memilih barang-barang unik yang masih memiliki nilai guna dan cerita untuk ditawarkan kembali kepada pembeli.

Perjalanan hidup Pak Suyatno mencerminkan bagaimana perubahan besar (baik bencana, krisis, maupun keputusan personal) dapat menggeser arah hidup seseorang. Dari ruang inspeksi internasional hingga lapak klitikan, ia memilih bertahan dan terus bergerak.

Read More

Nuzulul Quran dan Cara Orang Jawa Memaknai Wahyu dalam Kehidupan

8 March 2026 - 02:35 WIB

Data dan Ajaran Moral dalam Manuskrip Jawa Tentang Perang

7 March 2026 - 09:53 WIB

Peserta BPJS PBI Dinonaktifkan? Ini Mekanisme dan Penjelasan Resmi

6 March 2026 - 06:36 WIB

Dari Rekan Bisnis Jadi Tersangka, Duduk Perkara Sengketa Merek HMI

25 February 2026 - 12:57 WIB

Sambut Ramadhan 1447 H, PRIMA DMI Kota Yogyakarta dan BAZNAS Gelar Bootcamp Dakwah Digital

16 February 2026 - 03:34 WIB

Trending on Berita Unggulan