Imogiri, Updatemerapi.com – Tak semua jalan hidup berakhir di tempat yang sama dengan titik awalnya. Pak Suyatno, yang kini berjualan di Pasar Klitikan Imogiri, Yogyakarta, pernah menghabiskan bertahun-tahun hidupnya di dunia industri internasional. Dari Italia hingga Korea, ia kini memilih bertahan di denyut ekonomi rakyat.
Di tengah lalu lintas padat Jalan Imogiri Timur, Yogyakarta, Suyatno (akrab disapa Om Yatno) menggelar lapak klitikannya. Barang-barang bekas tertata rapi di atas terpal, menunggu pembeli yang singgah. Tak banyak yang tahu, pria ini pernah bekerja lintas negara sebagai pemeriksa kualitas bahan kulit.

Sebelum kembali ke Yogyakarta, Pak Suyatno merantau selama 17 tahun. Selama 14 tahun, ia bekerja di pabrik sepatu Eagle, Balaraja, Tangerang. Dari sanalah keahliannya mengantarkan ia ke posisi penting sebagai inspector kulit untuk kebutuhan sepatu dan jaket.
Pekerjaan itu membawanya bepergian ke sejumlah negara, seperti Singapura, Malaysia, Korea Selatan, hingga Italia. Ia bertugas memastikan kualitas bahan kulit sebelum diproduksi secara massal.
“Dulu saya bagian checking kulit yang mau dipakai untuk sepatu dan jaket,” kata Pak Yatno, mengenang masa kerjanya.
Namun, dinamika global mengubah segalanya. Setelah peristiwa Bom Bali, perusahaan Amerika tempatnya bekerja memindahkan operasional ke Vietnam. Situasi itu membuat Pak Suyatno memilih pulang kampung dan memulai ulang kehidupannya.
Ia kembali ke Yogyakarta pada 2006, bertepatan dengan masa pemulihan pascagempa besar. Sejak saat itu, ia menekuni dunia perdagangan klitikan, menjual barang bekas yang masih layak pakai.
Kini, Pak Suyatno menjadi bagian dari Paguyuban Pasar Klitikan Imogiri yang menaungi sekitar 500 pedagang. Ia mengikuti ritme pasaran Jawa, berpindah lokasi berdagang dari Jangkang Sleman, Turi Bantul, Godean, Sanden, hingga Imogiri dan Gamping.
Menurutnya, ekosistem klitikan di Yogyakarta saling terhubung. Selain Imogiri, ada Pasar Senthir di kawasan Malioboro, Klitikan Kliwon di Bantul dan Cebongan, serta Pasar Klitikan Wirobrajan yang buka dari pagi hingga malam.
Untuk stok dagangan, Pak Suyatno kerap berburu ke pengepul rongsok besar. Dari sana, ia memilih barang-barang unik yang masih memiliki nilai guna dan cerita untuk ditawarkan kembali kepada pembeli.
Perjalanan hidup Pak Suyatno mencerminkan bagaimana perubahan besar (baik bencana, krisis, maupun keputusan personal) dapat menggeser arah hidup seseorang. Dari ruang inspeksi internasional hingga lapak klitikan, ia memilih bertahan dan terus bergerak.













