Sleman, updatemerapi.com – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto hadir dalam acara Dialog Menko Perekonomian dengan Warga Muhammadiya di Hyatt Regency Yogyakarta. Pada sambutannya, ia mendorong Muhammadiyah untuk mengambil peran strategis sebagai agregator UMKM nasional guna memperkuat ekosistem usaha rakyat, menekan risiko kredit.
Selain itu, ia juga mendorong pelaku usaha naik kelas dari mikro menuju usaha menengah dan besar. Dorongan tersebut disampaikan Airlangga dalam pertemuan dengan jajaran pimpinan dan pelaku usaha Muhammadiyah.

Menurutnya, jaringan Muhammadiyah yang luas, disiplin organisasi, serta ekosistem amal usaha yang kuat menjadi modal penting untuk membangun sistem agregasi UMKM yang berkelanjutan.
“Muhammadiyah memiliki ekosistem yang lengkap dan terjaga kedisiplinannya. Ini bisa menjadi contoh yang baik untuk membangun agregator UMKM yang kredibel,” kata Airlangga, dikutip Sabtu (7/2/2026).
Airlangga menjelaskan, skema agregator sangat dibutuhkan untuk menjawab tantangan utama UMKM, terutama terkait akses pembiayaan, kepastian pasar, dan pengendalian risiko kredit.
Dengan agregator, UMKM tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari rantai pasok yang terintegrasi.
“Agregator bisa menjamin pasokan, menjamin pembeli, dan memastikan pembayaran. Dengan begitu, risiko kredit bisa ditekan dan UMKM bisa berkembang secara berkelanjutan,” ujarnya.
Model ini juga dinilai sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mendorong penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) agar lebih produktif dan tepat sasaran.
Menurutnya, Pemerintah telah menyiapkan alokasi KUR nasional hingga Rp300 triliun. Pada 2025, realisasi KUR Syariah tercatat mencapai Rp91,8 triliun, sementara total penyaluran KUR pada tahun sebelumnya mencapai sekitar Rp130 triliun.
Dalam konteks ini, Airlangga menantang Muhammadiyah untuk mampu mengelola sebagian pagu KUR, termasuk target Rp5 triliun yang dinilai realistis jika didukung sistem agregator yang kuat.
“Kalau dibantu agregator, lima triliun seharusnya bisa. Yang penting adalah kesiapan di lapangan dan pendampingan yang berkelanjutan,” kata Airlangga.
Airlangga menegaskan, tujuan utama penyaluran KUR melalui agregator bukan sekadar mempertahankan usaha kecil, melainkan mendorong UMKM naik kelas. Usaha yang telah menerima KUR diharapkan dapat berkembang menuju pembiayaan komersial.
“Jangan hanya berhenti di KUR. Yang sudah mendapatkan KUR harus bisa naik ke kredit komersial, kemudian menjadi usaha menengah dan besar,” tegasnya.
Ia menilai Muhammadiyah memiliki keunggulan dalam melakukan pendampingan usaha karena struktur organisasinya yang kuat hingga ke daerah.
Selain peran agregator, Airlangga juga membuka peluang bagi Muhammadiyah untuk berpartisipasi dalam Koperasi Desa Merah Putih, selama dijalankan tanpa embel-embel organisasi dan mengikuti ketentuan yang berlaku.
Setiap koperasi desa akan mendapatkan alokasi dana hingga Rp5 miliar, yang diarahkan untuk menggerakkan sektor riil seperti pertanian, perikanan, logistik, dan perdagangan desa.
“Koperasi ini akan membutuhkan banyak sumber daya manusia dan pendampingan. Muhammadiyah bisa berperan besar di sini,” ujarnya.
Pelaksana Tugas Ketua Majelis Ekonomi dan Bisnis PP Muhammadiyah, Muhammad Zainal Fatah, menyatakan pihaknya siap menjawab tantangan tersebut. Ia menyebut, Muhammadiyah memiliki banyak pelaku usaha yang potensial dan siap dikembangkan melalui pendekatan agregator.
“Dengan agregator, pelaku usaha Muhammadiyah mendapatkan kepastian pasar dan jaminan pembayaran. Ini sekaligus menjaga kualitas pembiayaan dan menekan NPL,” ujar Zainal.
Ia menambahkan, Muhammadiyah akan melakukan identifikasi cepat terhadap pelaku usaha yang layak menerima pembiayaan, sekaligus menyiapkan sistem pendampingan agar usaha dapat berkembang secara berkelanjutan.
Airlangga menilai, keterlibatan aktif Muhammadiyah sebagai agregator UMKM nasional tidak hanya berdampak pada ekonomi umat, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kalau ini berjalan dengan baik, UMKM akan semakin kuat, lapangan kerja bertambah, dan pertumbuhan ekonomi daerah ikut terdorong,” katanya.(*)
Penulis : Len













