Menu

Dark Mode
Nuzulul Quran dan Cara Orang Jawa Memaknai Wahyu dalam Kehidupan Data dan Ajaran Moral dalam Manuskrip Jawa Tentang Perang Peserta BPJS PBI Dinonaktifkan? Ini Mekanisme dan Penjelasan Resmi Mobil Pajak Keliling PBB Hadir di Singosaren, Warga Imogiri Kini Bayar Pajak Lebih Mudah Kolaborasi Presisi Polda DIY Perkuat Keamanan dan Higienitas Program Makan Bergizi Gratis di Yogyakarta Rakerda HILLSI DIY 2026 Digelar di Sleman, Siapkan Portal Data Center untuk Dongkrak Kualitas SDM

Berita

Selama 8 Hari Pemantauan, Kamera Trap BKSDA DIY Tak Temukan Macan

badge-check


					CCTV hutan BKSDA Yogyakarta. Foto : Istimewa Perbesar

CCTV hutan BKSDA Yogyakarta. Foto : Istimewa

Gunungkidul, Updatemerapi.com — Isu kemunculan macan yang sempat menghebohkan warga Padukuhan Panggul Kulon, Kalurahan Candirejo, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, hingga kini belum terbukti. 

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memastikan tidak menemukan keberadaan macan setelah melakukan pemantauan menggunakan kamera trap selama delapan hari.

Pemantauan dilakukan menyusul laporan warga terkait temuan jejak hewan misterius di sekitar lokasi pembangunan pondok pesantren. Untuk memastikan jenis satwa yang meninggalkan jejak tersebut, BKSDA DIY memasang tiga unit kamera trap di titik-titik yang kerap ditemukan jejak.

Pengendali Ekosistem Hutan BKSDA Yogyakarta, Taufan Kharis, mengatakan selama delapan hari pemantauan, kamera trap hanya merekam beberapa satwa domestik dan liar berukuran kecil.

“Dari tiga kamera trap itu, yang terekam ada musang, kucing biasa atau kucing kampung, dan anjing,” kata Taufan saat dihubungi wartawan melalui sambungan telepon, Rabu (28/1/2026).

Menurut Taufan, ketiga jenis hewan tersebut terekam cukup sering, baik pada pagi maupun malam hari, terutama di lokasi yang selama ini disebut warga sebagai titik kemunculan jejak macan. 

Namun, hingga saat ini tidak ada satu pun rekaman yang menunjukkan keberadaan satwa liar berukuran besar.

“Satwa itu terekam saat pagi dan malam. Ketiganya sering muncul di kamera. Untuk macan, sampai sekarang belum ditemukan,” ujarnya.

Taufan menjelaskan, sejak awal pihaknya menduga bahwa jejak yang ditemukan warga bukan berasal dari macan. Berdasarkan analisis awal, jejak tersebut lebih mengarah pada jejak anjing.

“Kami memang sejak awal menduga jejak itu bukan jejak macan, tapi anjing. Pemasangan kamera trap ini untuk memastikan dan memperkuat hipotesis awal kami,” kata Taufan.

Meski hasil sementara belum menemukan bukti keberadaan macan, BKSDA DIY belum menghentikan pemantauan. Kamera trap akan tetap dipasang selama satu pekan ke depan di lokasi yang sama.

“Masih akan kami pasang sekitar seminggu lagi. Setelah itu baru alatnya kita ambil,” jelasnya.

Meski demikian, Ia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak menyimpulkan secara sepihak sebelum ada bukti ilmiah yang kuat. Pihaknya menegaskan bahwa hasil pemantauan sejauh ini hanya merekam satwa berukuran kecil dan tidak berbahaya.

“Pendekatan kami tetap ilmiah. Sementara ini hasil kamera trap hanya merekam musang, anjing, dan kucing,” pungkas Taufan.

Sebelumnya, warga Panggul Kulon sempat dibuat resah oleh kemunculan jejak hewan yang diduga macan di area pembangunan pondok pesantren. Jejak tersebut pertama kali ditemukan pada 2 Januari 2026, kemudian kembali muncul pada 10 Januari dan 15 Januari 2026.

Salah seorang pekerja pembangunan pondok pesantren, Heru Purwanto, menyebut dalam satu bulan terakhir sudah tiga kali ditemukan jejak serupa di lokasi yang sama.

“Untuk bulan ini sudah ada tiga temuan jejak. Terakhir muncul Kamis (15/1/2026) malam,” katanya.

Heru mengungkapkan, sebagian warga meyakini jejak tersebut berasal dari macan karena adanya cerita turun-temurun dan klaim penampakan hewan besar di sekitar lokasi.

“Warga percaya itu macan karena katanya pernah ada yang melihat. Apalagi kalau dilihat dari bentuk jejaknya, ukurannya cukup besar,” ujarnya.

Dugaan warga terkait keberadaan macan juga diperkuat oleh adanya dua gua di sekitar lokasi pembangunan pondok pesantren. Gua-gua tersebut memiliki terowongan yang diyakini warga sebagai tempat persembunyian satwa buas.

“Ada dua gua yang ada terowongannya, dan warga percaya itu jadi tempat tinggal macan,” kata Heru.

Penulis : Len

Read More

Nuzulul Quran dan Cara Orang Jawa Memaknai Wahyu dalam Kehidupan

8 March 2026 - 02:35 WIB

Data dan Ajaran Moral dalam Manuskrip Jawa Tentang Perang

7 March 2026 - 09:53 WIB

Peserta BPJS PBI Dinonaktifkan? Ini Mekanisme dan Penjelasan Resmi

6 March 2026 - 06:36 WIB

Dari Rekan Bisnis Jadi Tersangka, Duduk Perkara Sengketa Merek HMI

25 February 2026 - 12:57 WIB

Sambut Ramadhan 1447 H, PRIMA DMI Kota Yogyakarta dan BAZNAS Gelar Bootcamp Dakwah Digital

16 February 2026 - 03:34 WIB

Trending on Berita Unggulan